Seorang gembala yang baik tidak hanya dinilai dari kemampuannya menuntun domba ke padang rumput yang hijau, tetapi dari kesetiaannya merawat setiap domba dengan penuh kasih. Ia tahu bahwa domba adalah makhluk yang lemah, mudah takut, dan tidak sanggup bertahan sendiri. Karena itu, domba sangat membutuhkan kehadiran seorang gembala yang setia. Alkitab menggambarkan Tuhan sebagai Gembala yang demikian. Ia mengenal setiap domba-Nya secara pribadi. Ia tahu kebutuhan mereka, memahami kelemahan mereka, dan tidak pernah mengabaikan yang terluka atau tersisih. Ketika ada domba yang sakit atau terluka, Tuhan tidak menjauhkannya. Sebaliknya, Ia mendekat, membersihkan luka, mengobati, dan memulihkan dengan kesabaran yang penuh kasih. Dalam Yehezkiel 34:16, terlihat jelas hati Tuhan sebagai Gembala yang setia. Ia tidak tinggal diam ketika domba-Nya tersesat atau menghadapi kesulitan. Tuhan justru aktif mencari yang hilang. Kasih-Nya adalah kasih yang tidak menyerah, kasih yang mengejar dan memulihkan. Domba yang tersesat tidak dihukum, melainkan dibawa pulang dengan lembut agar kembali merasakan keamanan dan kebersamaan. Tuhan juga memperhatikan domba yang lemah dan sakit. Ia menguatkan mereka, memberi kekuatan baru agar mereka mampu bangkit dan melanjutkan perjalanan. Semua ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya peduli kepada yang kuat, tetapi sangat memperhatikan mereka yang membutuhkan pertolongan.
Oleh karena itu melalui Yehezkiel 34:16, Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai Gembala yang bertanggung jawab penuh atas domba-domba-Nya. Kesetiaan-Nya nyata dalam kasih, perhatian, dan pemulihan yang menyeluruh. Tidak ada domba yang dibiarkan sendirian, karena Gembala yang setia selalu hadir untuk merawat dan menjaga.
Seperti gembala yang baik, gereja tidak boleh hanya fokus pada jemaat yang kuat, aktif, dan terlihat berhasil secara rohani. Gereja juga dipanggil untuk memperhatikan mereka yang lemah, terluka, kecewa, atau bahkan menjauh. Jemaat yang sedang bergumul, jatuh dalam dosa, atau kehilangan iman bukan untuk dihakimi, melainkan dicari, dirangkul, dan dipulihkan dengan kasih. Gereja dipanggil untuk mencerminkan hati Tuhan dalam cara melayani jemaat. Gereja bukan hanya tempat berkumpul untuk beribadah, tetapi juga rumah rohani di mana setiap orang dirawat, diperhatikan, dan dipulihkan.